Kemungkaran di Tahun Baru

Kemungkaran di Tahun Baru

Pergantian tahun baru menjadi momen berharga yang sangat dinantikan oleh banyak orang dari seluruh dunia. Mereka menyambutnya dengan berbagai macam pesta seperti begadang semalam suntuk untuk menunggu pukul 00.00 tiba, kemudian secara serempak meniup terompet, pesta kembang api, pawai, dan berbagai acara lainnya. Tidak ketinggalan pula muda-mudi yang jauh-jauh hari sudah merencanakan pesta malam tahun baru. Alhasil, di malam tahun baru kita akan melihat campur baur antara muda-mudi, yang bergandengan tangan dengan  pasangan mereka, berkencan merayakan tahun baru. Tidak luput pula gelak tawa dan canda, isapan rokok, dan musik menjadi pelengkap pesta mereka malam  itu.

Begitu meriah acara yang digelar untuk merayakan tahun baru. Banyak orang terbuai, terlena, ikut terhanyut gelombang kemungkaran yang timbul karenanya. Fenomena ini  merupakan realita kehidupan yang senantiasa berulang setiap tahunnya.

Pergantian tahun  merupakan tanda kekuasaan Allah Ta’ala

Perputaran waktu dan roda kehidupan yang telah dikemas dengan rapi merupakan tanda kekuasaan Sang Pencipta. Pencipta kehidupan dan kematian, pengatur jagad raya dan seluruh isinya. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.’“ (QS. Al-Imran: 190-191)

Haruskah tahun baru dirayakan?

Apabila kita sudah mengetahui bahwa pergantian tahun merupakan tanda kekuasaan Allah Ta’ala, haruskah tanda kekuasaan-Nya dirayakan dengan berbagai pesta?

Perayaan tahun baru di beberapa negara  terkait erat dengan ritual keagamaan atau kepercayaaan mereka terhadap para dewa. Di Brazil misalnya, pada tengah malam tanggal 1 Januari manusia berbondong-bondong menuju pantai dengan pakaian putih untuk menaburkan bunga di laut, mengubur mangga, pepaya, dan semangka di pasir sebagai penghormatan terhadap dewa Lamanja, dewa laut yang terkenal dalam legenda negara tersebut.

Bagi orang Nasrani, tahun baru Masehi dikaitkan dengan kelahiran Yesus Kristus atau Isa al-Masih, sehingga agama Kristen sering disebut sebagai agama Masehi. Masa sebelum Yesus lahir pun disebut  tahun Sebelum Masehi (SM), sedangkan masa sesudah Yesus lahir disebut tahun Masehi.

Jika kita telah mengetahui hal ini, tentu ia akan memahami bahwa bagi kaum Nasrani dan kaum kafir lainnya merayakan tahun baru merupakan bagian dari peribadatan mereka. Oleh karena itu, bila ada seorang muslim yang ikut-ikutan merayakan tahun baru maka hal itu karena kebodohannya terhadap agamanya. Ia telah menyerupakan dirinya dengan orang kafir yang menentang Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.

Dalam hadits shahih dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari besar untuk bermain-bermain. Lalu beliau bertanya, ‘Dua hari apa ini?’ Mereka menjawab, ‘Dua hari di mana kami sering bermain-main di masa jahiliyyah.’ Lantas beliau bersabda, ‘Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik dari keduanya, (yaitu) Idul Adha dan Idul Fitri.’” (HR. Abu Dawud: 1134)

Demikian  pula terdapat hadits shahih dari Tsabit bin Adh-Dhohak radhiyallahu ’anhu bahwasanya dia berkata, ”Seorang laki-laki bernadzar pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyembelih unta sebagai kurban di Buwanah. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Apakah di sana terdapat salah satu dari berhala-berhala jahiliyyah yang disembah?’ Laki-laki tersebut menjawab, ‘Tidak.’ Beliau bertanya lagi, ‘Apakah di sana terdapat (perayaan) salah satu dari hari besar mereka?’ Dia menjawab, ‘Tidak.’  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tepatilah nadzarmu karena tidak perlu menepati nadzar  di dalam berbuat maksiat kepada Allah Ta’ala dan di dalam hal yang tidak dimiliki manusia.” (HR.Abu Dawud: 3313)

Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ’anhu berkata, ”Janganlah kalian mengunjungi kaum musyrikin di gereja-gereja (rumah-rumah ibadah) mereka pada hari besar mereka, karena sesungguhnya kemurkaan Allah Ta’ala akan turun atas mereka.” (Atsar riwayat Al-Baihaqi dalam Sunanul Kubro: 9/234)

Beliau radhiyallahu ‘anhu berkata lagi, ”Hindarilah musuh-musuh Allah Ta’ala pada momentum hari-hari besar mereka.” (Atsar riwayat Al-Baihaqi dalam Sunanul Kubro: 9/234)

Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu ’anhu berkata, “Barang siapa berdiam di negeri-negeri orang asing, lalu membuat tahun baru dan festival seperti mereka serta menyerupai mereka hingga dia mati dalam kondisi demikian, maka kelak dia akan dikumpulkan pada hari kiamat bersama mereka.” (Atsar riwayat Al-Baihaqi dalam Sunanul Kubro: 9/234)

Ingkarilah kemungkaran yang timbul saat tahun baru

Seorang muslim yang ikut-ikutan merayakan tahun baru akan tertimpa banyak kemungkaran, di antaranya:

Kemungkaran pertama: tasyabbuh (menyerupai) orang-orang kafir

Barangsiapa yang menyerupai orang kafir dalam beribadah, berarti ia telah terjerumus ke dalam petaka yang besar, bahkan bisa jadi hal itu menggiringnya kepada kekafiran dan mengeluarkan dari Islam. Kita diharamkan menyerupai mereka baik dalam kebiasaan atau tradisi, pakaian, dan sebagainya, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, berarti ia termasuk dari golongan mereka.” (HR. Ahmad)

Kemungkaran ke dua: ikhtilath (campur-baur) antara pria dan wanita

Seperti  yang kita lihat pada hampir seluruh perayaan malam tahun baru banyak para wanita dengan laki-laki ajnabi (bukan mahramnya) bercampur-baur, berdekatan tanpa batas, bahkan sampai terjerumus pada perbuatan zina. Na’udzubillahi min dzalik. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah (Muhammad) kepada orang laki-laki yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’ Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya…” (QS. An-Nuur: 30-31)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini adalah sesuatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim no. 6925)

Kemungkaran ke tiga: berhiasnya wanita muslimah ketika keluar rumah

Banyak wanita yang keluar rumah dengan alasan merayakan pesta tahun baru, tidak hanya wanita dewasa, para remaja putri pun keluar saat malam tahun baru. Mereka keluar dengan melanggar adab-adab keluar rumah bagi seorang wanita. Keluar malam tanpa hijab, memakai wewangian, berhias (tampil cantik) di tempat selain rumahnya tanpa rasa malu, berdesak-desakan dengan pria, bahkan pergi tanpa izin orang tua atau suaminya (bagi yang sudah menikah). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wanita mana saja yang memakai minyak wangi kemudian keluar melewati laki-laki agar mereka mencium baunya maka dia adalah pezina.” (HR. Abu Daud dan Nasa’i). Allah Ta’ala berfirman,Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias seperti orang-orang jahiliyyah pertama.” (QS. Al-Ahzab: 33)

Dari Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Wanita itu adalah aurat, apabila dia keluar maka setan akan menghias-hiasinya.” (HR. Turmudhi: 1173, Ibnu Khuzaimah:3/95, Thobroni dalam Al-Kabir: 10015)

Kemungkaran ke empat: pemborosan harta kaum muslimin

Banyak uang kaum muslimin terbuang sia-sia untuk merayakan tahun baru. Mereka menggunakan harta mereka untuk membeli makanan, kado, terompet, kembang api, petasan, menyelenggarakan konser musik, dan lainnya, yang semuanya itu adalah kesia-sian di sisi Allah Ta’ala. Allah Ta’ala telah berfirman (yang artinya), “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan.” (QS. Al-Isra’: 26-27)

Kemungkaran ke lima: Begadang tanpa ada keperluan syar’i

Sebagian orang rela bergadang semalam suntuk dengan tujuan untuk menunggu saat-saat pergantian tahun. Sungguh, semua itu tidak ada manfaatnya sama sekali, bahkan hal itu merupakan kesia-siaan belaka. Diriwayatkan dari Abi Barzah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan mengobrol setelahnya (tanpa ada keperluan).” (HR. Bukhari no. 568)

Kemungkaran ke enam: membuang-buang waktu yang begitu berharga

Perayaan tahun baru sangatlah membuang-buang waktu. Padahal waktu sangatlah berharga, setiap waktu yang hilang tidak akan bisa kembali lagi, kecuali dengan kehendak-Nya. Orang yang  berakal mengetahui  bahwa dunia tidak ada apa-apanya dibandingkan akhirat. Maka merugilah orang yang menyia-nyiakan waktu. Ibnul Qoyyim menjelaskan, ”Menyia-nyiakan waktu lebih besar masalahnya daripada kematian. Karena menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu dari Allah dan kampung akhirat, Sedangkan kematian memutuskanmu dari dunia dan penghuninya.” (Al Fawaid, hal 33)

Pergantian hari, bulan, dan tahun adalah nikmat Allah yang sangat besar. Maka renungkanlah dan bersyukurlah kepada Allah Ta’ala atas segala nikmat-Nya. Gunakanlah waktu dan umurmu yang telah diberikan-Nya untuk melakukan ketaatan kepada-Nya.

Kemungkaran merupakan sebuah jalan menuju petaka

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Ruum: 41) Begitu bahaya akibat dari kemungkaran bagi kehidupan rumah tangga, masyarakat, bangsa, dan negara, maka seorang muslim harus berusaha sekuat tenaga mencegah dan mengingkari kemungakaran-kemungkaran yang ada sebatas kemampuannya, walau hanya dalam hati. Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran maka hendaknya mengubahnya dengan tangannya, bila tidak mampu maka dengan lisannya, bila tidak mampu maka dengan hatinya. Dan (pengingkaran dengan hati) itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR.Muslim no. 186)

Marilah kita membenahi akidah kita dan akidah keluarga kita, menjaga diri dari berbagai kemungkaran menuju ketaatan kepada Allah Ta’ala sehingga terhindar dari neraka-Nya. Kita bentengi diri dan keluarga kita dengan ilmu  tentang Allah Ta’ala agar tertanam rasa takut yang akan membawa  kepada kecintaan, ketundukan, kepatuhan dan pengagungan terhadap rububiyah, uluhiyah, nama-nama-Nya, hukum-hukum syariat-Nya, serta qodho dan qodar-nya. Berbanggalah dengan keislaman yang kita miliki. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)

Sebagai seorang  muslim hendaknya kita meninggalkan perayaan tahun baru, memanfaatkan waktu sebaik mungkin dengan mengerjakan sesuatu yang bermanfaat untuk dunia dan akhirat. Berusaha menghidupkan penanggalan Islam dalam rangka meninggikan syi’ar dan izzah (kemuliaan) Islam serta kaum muslimin. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Demikianlah (perintah Allah). Barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena takut kepada Allah Yang Maha Agung lagi Maha Mulia, melainkan Allah akan memberimu pengganti yang lebih baik dari yang engkau tinggalkan.” (HR. Ahmad dan dinilai shahih oleh Al-Albani)

 

 

Referensi:

– Majalah Al-Mawaddah edisi ke-5 Tahun ke-2 Dzulhijjah 1429/Desember 2008, artikel “Tahun Baru Haruskah Dirayakan?” oleh Abu Zahroh al-Anwar

Wahai Muslimah Dengarlah Nasehatku, Ummu Abdillah Al Wadi’iyyah, Pustaka Sumayyah

Al Fawaid hal 33, Ibnul Qoyyim, Pustaka Darul Aqidah

http://muslim.or.id

http://ahmadsabiq.com/

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s