Catatan Kajian Kitab Nashiihatiy lin-Nisaa` Part 1

oleh Pengen Ke Madinah pada 07 April 2011 jam 8:30

Kitab                   : Nashiihatiy lin-Nisaa`

Penulis                : Ummu ‘Abdillah bintu Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah

Pemateri             : Ustadz Zaid Susanto hafidzahullah

Bab                    : Anjuran untuk Ikhlas dan Menjaga Waktu

Niat

Penulis kitab hafidzahallah menukil sebuah hadits yang agung yang diriwayatkan oleh ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda,

(( الأعمال بالنية، ولكل امرئ ما نوى، فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله، ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها أو امرأة يتزوجها فهجرته إلى ما هاجر إليه ))

“Setiap amalan itu tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang dia niatkan. Barang siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya maka hiijrahnya adalah karena Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang diinginkannya atau seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu kepada apa yang dia inginkan.” (HR. Al-Bukhari dalam Fat-hul Baari 1/135)

Penjelasan dari Ustadz:

  • Setiap amal itu tergantung niatnya. Jika niatnya benar maka amalannya sah serta pelakunya akan mendapatkan pahala dan ganjaran dari Allah Ta’ala. Namun, jika niatnya salah maka amalannya rusak dan pelakunya akan mendapatkan dosa.
  • Niat terbagi menjadi dua macam yaitu:

1.       Niyyatul-‘amali (نية العمل)

Adalah niat untuk amalan apa yang akan kita kerjakan. Niat ini mempunyai dua fungsi yaitu:

a.       Untuk membedakan antara perkara ibadah dengan perkara adat (kebiasaan).

Contoh: Seorang wanita yang mandi keramas, bisa jadi dia mandi wajib karena selesai haid (perkara ibadah), atau bisa jadi dia mandi karena kepanasan (perkara adat). Maka pembeda antara dua hal ini adalah niatnya.

b.      Untuk membedakan antara ibadah yang satu dengan ibadah yang lain.

– membedakan ibadah wajib dengan ibadah sunnah

Contoh: Setelah mendengar adzan Subuh, seseorang shalat dua rakaat. Kita tidak tahu apakah dia shalat Subuh ataukah shalat sunnah fajar. Maka yang membedakannya adalah niat, apakh orang tersebut berniat shalat Subuh atau berniat shalat sunnah fajar.

– membedakan ibadah sunnah yang satu dengan ibadah sunnah yang lainnya

Contoh: Seseorang masuk ke masjid di waktu dhuha, kemudian dia shalat dua rakaat. Apakah dia shalat tahiyyatul masjid ataukah shalat dhuha? Maka tergantung niat orang tersebut, apakah dia meniatkan shalatnya tersebut untuk shalat dhuha ataukah shalat tahiyyatul masjid.

2.       Niyyatul-ma’muuli lahu (نية المعمول له)

Adalah niat untuk siapa kita beramal. Contoh: A dan B shalat berjama’ah, berjajar dalam satu shaf yang sama, tetapi A mendapat pahala karena niatnya ikhlas lillahi Ta’ala, sedangkan B mendapatkan dosa karena riya`.

Oleh karena itu wahai Saudariku, betapa pentingnya untuk memperhatikan niat kita dalam beramal. Karena niat akan menentukan buah dari amalan kita, apakah berbuah pahala ataukah dosa. Jangan pula kita meremehkan suatu amalan yang kelihatannya sepele, karena jika kita meniatkannya ikhlas demi mengharap wajah Allah Ta’ala, niscaya amalan yang kecil tersebut menjadi besar nilainya di sisi Allah Ta’ala karena niatnya. Sungguh benar apa yang dikatakan oleh ‘Abdullah bin Mubarak rahimahullah, “Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar karena niat. Dan betapa banyak amalan yang besar menjadi kecil karena niat.”

Cukuplah menjadi pelajaran bagi kita, hadits mengenai tiga orang yang pertama kali disiksa di neraka akibat niat yang salah. Padahal kita tahu, betapa besarnya amalan mereka, yaitu berjihad di jalan Allah, belajar Al-Qur`an, dan bersedekah. Namun, niat mereka yang tidak benar -yaitu berjihad agar disebut sebagai orang yang pemberani, belajar Al-Qur`an supaya disebut sebagai qari` (seorang yang pintar membaca Al-Qur`an), dan bersedekah supaya disebut sebagai seorang yang dermawan- itulah yang membuat mereka diseret di atas mukanya kemudian dilemparkan ke dalam neraka. Wal ‘iyaadzu billah..

 

Nas`alulloha al-ikhlaash wa as-salaamah

 

 

Wisma ceRIa

Menjelang ashar, 2 Jumadil Ula 1432

===========================================================

*Mungkin ada yang berkenan menambahi catatan saya yang belum lengkap ini? Bisa jadi ada penjelasan dari ustadz yang terlewatkan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s