Catatan Kajian Kitab Nashiihatiy lin-Nisaa` Part 2

oleh Pengen Ke Madinah pada 11 April 2011 jam 9:31

Taqwa bag. 1

 

Penulis hafidzahallahu Ta’ala menasihatkan kepada dirinya sendiri dan para muslimah untuk bertaqwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, baik dalam keadaan tersembunyi  maupun terang-terangan, baik dalam keadaan sendirian maupun bersama-sama. Beliau menasihati kita untuk menjadikan amalan kita ikhlas karena mengharap wajah Allah Yang Maha Mulia, dan hendaklah kita tidak mengerjakan satu amalan pun karena riya` atau untuk berbangga-bangga. Dan hendaknya kita berpegang teguh dengan agama kita, karena sesungguhnya kita semua akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla.

Penjelasan Ustadz:

  • Taqwa kepada Allah Ta’ala mencakup taqwa dalam masalah lahir dan taqwa dalam masalah batin. Taqwa kepada Allah dalam masalah batin harus lebih besar daripada taqwa kepada Allah dalam masalah lahir, minimal keduanya sama.
  • Islam mengajarkan keseimbangan antara perbaikan lahiriyah (ishlahudh-dhahir) dan perbaikan batin (ishlahul-bathin), bahkan perbaikan penampilan batin harus lebih besar porsinya daripada perbaikan penampilan lahiriyah.
  • Sebagian orang mengatakan, “Yang penting kan batinnya”, misalnya seorang muslimah yang enggan berjilbab, ketika diajak untuk memakai jilbab maka dia menggunakan pernyataan tersebut untuk menolak ajakan kebaikan ini. Pernyataan ini bohong! Nyatanya kondisi dia jauh lebih memperhatikan penampilan lahir daripada penampilan batin. Lihatlah para wanita yang sehari-harinya tidak berjilbab tersebut ketika hendak keluar rumah justru mereka sibuk berdandan terlebih dahulu, menghias-hiasi penampilan lahirnya agar tampak cantik. Seandainya perkataan mereka “yang penting batinnya” adalah perkataan yang jujur, mengapa harus berhias dan sibuk memperhatikan penampilan lahirnya??
  • Salah satu cara untuk melatih diri kita supaya tidak riya` adalah memperbanyak amalan-amalan sirr (amalan yang sifatnya rahasia) baik amalan lahir maupun amalan batin. Tentunya amalan sirr ini adalah amalan yang  memungkinkan untuk disembunyikan, misalnya sedekah, berdzikir, shalat malam, dan sebagainya. Karena hal ini lebih memungkinkan untuk ikhlas.
  • Seseorang terkadang sudah lepas dari riya` tetapi tidak lepas dari berbangga-bangga (mufaakharah) dengan amalannya. Merasa bahwa dirinya lebih banyak dan lebih bagus amalannya daripada orang lain. Terkadang hal ini menimpa kita yang sudah ngaji, misalnya ketika kita bertemu dengan akhwat lain yang jilbabnya lebih kecil. Padahal bisa jadi ibadahnya lebih banyak daripada ibadah kita. Ingat bahwasanya ibadah itu tidak hanya ibadah dhahir saja. Ibadah juga mencakup ibadah batin yang luas sekali cakupannya, misalnya tawakkal, raghbah, rahbah, khauf, dan ikhlas itu sendiri.

Bahkan ketika kita bertemu dengan orang yang kita sebut “awam” sekalipun, kita tidak bisa membanggakan diri. Barangkali ibadahnya jauh lebih banyak daripada ibadah kita. Mungkin keikhlasannya dalam beribadah jauh lebih tinggi daripada keikhlasan kita. Meskipun mungkin mutaba’ah kita lebih bagus daripada mutaba’ah-nya, tetapi tidak menjamin bahwa keikhlasan kita lebih tinggi daripada keikhlasan dia.  Padahal kedua syarat ibadah ini (yaitu ikhlas dan ittiba’) harus terpenuhi kedua-duanya. Maka hendaknya kita menjauhkan diri dari riya` dan berbangga-bangga terhadap amalan.

Selanjutnya penulis menukil hadits yang diriwayatkan oleh ‘Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ما منكم أحد إلا سيكلمه ربه ليس بينه وبينه ترجمان، فينظر أيمن منه فلا يرى إلا ما قدّم من عمله، وينظر أشأم منه فلا يرى إلا ما قدّم، وينظر بين يديه فلا يرى إلا النار تلقاء وجهه، فاتقوا النار ولو بشق تمرة

“Tidak ada seorang pun di antara kalian kecuali pasti akan diajak bicara oleh Rabb-nya, tidak ada penterjemah antara dia dan Allah Ta’ala. Maka dia akan melihat ke arah kanannya, tidaklah dia melihat kecuali apa yang telah dia kerjakan dari amalan-amalannya. Kemudian dia menengok ke arah kiri, maka dia tidak mendapatkan kecuali apa yang telah dia kerjakan. Kemudian dia melihat ke depannya, maka tidaklah dia melihat kecuali neraka persis di depan wajahnya. Maka berlindunglah kalian dari api neraka meskipun dengan separuh kurma.” (Muttafaqun ‘alaih)

 

Hadits ini adalah hadits yang sangat agung yang menggambarkan bahwa setiap manusia akan mempertanggungjawabkan amalan-amalannya. Jika amalan kita baik maka kita akan dibalas dengan kebaikan, jika amalan kita jelek maka kita akan dibalas dengan kejelekan.

Dalam hadits tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan salah satu cara yang sederhana untuk menjaga diri kita dari ancaman api neraka adalah bersedekah meskipun dengan separuh kurma. Ini hanya salah satu dari jalan kebaikan, karena jalan kebaikan itu sangat banyak, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ”Setiap perbuatan baik adalah sedekah.” Hadits ini mengandung motivasi untuk memperbanyak amal ibadah. Maka tidak ada alasan bagi seseorang untuk berputus asa dari melakukan kebaikan, karena jalan kebaikan sangatlah banyak.

Semoga Allah Ta’ala menutupi aib-aib kita di dunia dan di akhirat…

Wisma mbuRI

Ba’da Ashar, 7 Jumadil Ula 1432

====================

*Mungkin ada yang berkenan menambahi catatan saya yang belum lengkap ini? Bisa jadi ada penjelasan dari ustadz yang terlewatkan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s