Catatan Kajian Nashiihatiy lin-Nisaa` Part 3

oleh Pengen Ke Madinah pada 15 April 2011 jam 23:05

Taqwa bag. 2

 

Penulis hafidzahallah menerangkan definisi taqwa sebagai sebuah kata yang komprehensif, yaitu

عِبَارَةٌ عَنْ طَاعَةِ اللهِ وَ طَاعَةِ رَسُوْلِهِ

“Suatu ungkapan tentang semua jenis bentuk ketaatan kepada Allah dan semua jenis ketaatan kepada Rasul-Nya.” 

Penjelasan Ustadz:

  • Ketaatan kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya mencakup dua hal:

1.       Taat untuk melaksanakan perintah

2.       Taat untuk menjauhi larangan

Kedua hal ini harus terpenuhi semuanya. Tidaklah disebut dengan taqwa jika hanya melaksanakan perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya tetapi masih mengerjakan hal-hal yang dilarang oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, demikian pula sebaliknya.

  • Oleh karena itu, sebagian ulama mengatakan bahwasanya taqwa adalah melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan Allah (فِعْلُ الْأَوَامِرِ وَ تَرْكُ النَّوَاهِي)
  • Beberapa definisi taqwa yang lain:

ü تَرْكُ الْاِصْرَارِ عَلَى الْمَعْصِيَّةِ وَ تَرْكُ الْاِغْتِرَارِ بِالطَّاعَةِ

Meninggalkan sikap terus-menerus dalam maksiat dan meninggalkan sikap tertipu ketika melaksanakan ketaatan.

Salah satu sifat orang yang bertaqwa adalah apabila dia melakukan maksiat maka dia segera berhenti dengan mengingat Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَواْ إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِّنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُواْ فَإِذَا هُم مُّبْصِرُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa apabila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (QS. Al-A’rof: 201)

Inilah dua pintu yang digunakan oleh setan untuk menjerumuskan anak keturunan Adam, yaitu:

1.       Orang yang malas-malasan dalam beribadah akan dibujuk untuk melakukan maksiat.

2.       Orang yang giat beriadah akan dijerumuskan sehingga dia tertipu dengan ibadahnya.

Ibnul Qoyyim rahimahullah (kalau tidak salah –Ustadz ragu ini perkataan siapa-) mengatakan, “Tidaklah Allah memerintahkan suatu perintah kepada bani Adam kecuali setan memiliki dua cara untuk menyesatkan manusia dari perintah Allah tersebut, terkadang dengan ghuluw dan mujaawazah (berlebih-lebihan dan melampaui batas), dan terkadang melalui tafriith dan taqshiir (menyepelekan). Dan setan tidak peduli dengan cara yang mana dia akan mendapatkan keberhasilan untuk menyesatkan bani Adam.”

 

ü أَنْ تُزَيِّنَ سِرَّكَ لِلْحَقِّ كَمَا زَيَّنْتَ ظَاهِرَكَ لِلْخَلْقِ

Engkau menghiasi kondisi batinmu untuk Allah Ta’ala sebagaimana engkau menghiasi kondisi lahirmu untuk (di depan) makhluk.

Inilah ketaqwaan, yaitu taat secara lahiriyah dan batiniyah. Kondisi batin sama bagusnya dengan kondisi lahir. Jika lahirnya tertutup auratnya maka batinnya pun harus tertutup dari syahwat dan hal buruk yang lain. Jika dhahirnya shalat maka batinnya pun harus jauh dari perbuatan keji dan mungkar.

ü أَنْ لَا يَرَاكَ مَوْلَاكَ حِيْنَ نَهَاكَ وَ أَنْ يَجِدَكَ مَوْلَاكَ حِيْنَ أَمَرَكَ

Jangan sampai Allah melihatmu di tempat-tempat yang engkau dilarang untuk mendekatinya, dan hendaklah Allah senantiasa mendapatkanmu di tempat-tempat yang engkau diperintahkan oleh-Nya.

Apabila seorang muslim dilarang untuk melakukan keharaman, maka jangan sampai Allah Ta’ala mendapatkannya di tempat yang diharamkan atau sedang melakukan perbuatan haram. Jangan sampai kita ketahuan oleh Allah ketika kita sedang bermaksiat.  Tentu tidak bisa bukan? Karena Allah Ta’ala Maha Melihat dan Maha Mengetahui segala sesuatu.

Jika engkau diperintahkan untuk shalat maka hendaklah Allah mendapatkanmu sedang shalat. Engkau diperintahkan untuk berbakti kepada kedua orang tua, maka hendaknya Allah mendapati dirimu sedang berbakti kepada orang tuamu.

ü أَنْ لَا يَجِدَ الْخَلْقُ فِي لِسَانِكَ عَيْبًا، وَلَا الْمَلَائِكَةُ فِي أَفْعَالِكَ عَيْبًا، وَلَا مَلِكُ الْعَرْشِ فِي سِرِّكَ عَيْبًا

Jangan sampai para makhluk mendapatkan aib dalam lisanmu, jangan sampai para malaikat mendapatkan aib dalam perbuatanmu, dan jangan sampai Allah Sang Pemilik ‘arsy mendapatkan aib dalam kondisi kesendirianmu.

Salah seorang ulama salaf mengatakan,

لَا تَكُنْ وَلِيًّا لِلّهِ فِي الْعَلَانِيَةِ وَلَا تَكُنْ عَدُوًّا لَهُ فِي السِّرِّ

“Janganlah kamu menjadi wali Allah tatkala beramai-ramai tetapi kamu menjadi musuh Allah tatkala sendirian.”

Tunjukkan kepada Allah Ta’ala bahwa kita adalah wali Allah baik tatkala sendirian maupun tatkala beramai-ramai.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اِسْتَحْيِ مِنَ اللهِ كَمَا تَسْتَحْيِي مِنْ رَجُلٍ صَالِحٍ مِنْ قَوْمِكَ

“Malulah engkau kepada Allah sebagaimana rasa malumu tatkala kamu bertemu dengan orang yang shalih di antara kalian.”

Hendaknya kita menjaga lisan, karena salah satu tanda ketaqwaan seseorang adalah terjaganya lisan. Lisan adalah panglimanya anggota badan. Jika lisan kita lurus maka luruslah seluruh anggota tubuh kita, tetapi jika lisan kita melenceng maka melencenglah anggota tubuh kita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah datang pagi hari kecuali seluruh anggota badan menyeru kepada lisan, ‘Wahai lisan, kami menurut kepadamu. Jika engkau berlaku lurus maka kami ikut lurus. Namun jika engkau melenceng maka kami ikut melenceng.”

Lisan dan hati adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Kata-kata jelek yang muncul dari lisan seseorang menunjukkan bahwa hati orang tersebut juga jelek. Pepatah mengatakan,

اَلْقُلُوْبُ كَلْوِعَاءِ وَاللِّسَانُ مَغَارِفُ

“Hati seperti bejana, sedangkan lisan adalah gayungnya.”

كُلُّ إِنَاءٍ بِمَا فِيْهِ يَنْضَحُ

“Setiap bejana akan mengalirkan apa yang ada di dalamnya.” 

Kalau di dalam hati isinya susu maka mengalirlah kata-kata selembut susu. Kalau di dalam hatinya berisi madu maka mengalirlah kata-kata semanis madu. Kalau di dalam hatinya ada racun maka mengalirlah kata-kata beracun.

ü أَنْ تَعْمَلَ طَاعَةَ اللهِ عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ تَرْجُوْ ثَوَابَ اللهِ، وَتَتْرُكَ مَعْصِيَّةَ اللهِ عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ تَخَافُ عِقَابَ اللهِ

Engkau melakukan ketaatan kepada Allah berdasarkan ilmu dari Allah dengan mengharapkan pahala dari Allah, dan engkau meninggalkan kemaksiatan kepada Allah berdasarkan ilmu dari Allah karena takut kepada siksaan Allah.

Definisi ini adalah definisi yang diberikan oleh Thalq bin Habiib, dan merupakan definisi taqwa yang paling lengkap.

  • Manakah yang lebih berat antara melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan? Jawabannya ada di dalam hadits berikut:

مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوْهُ، وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَافْعَلُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Apa yang aku larang kalian darinya maka jauhilah, dan apa yang aku perintahkan kalian dengannya maka kerjakanlah semampu kalian.” (muttafaqun ‘alaih)

Dari hadits ini para ulama mengatakan bahwa melaksanakan perintah lebih berat daripada meninggalkan larangan. Ketika kita diperintahkan maka kita diperintahkan untuk mengerjakan sesuai dengan kemampuan, karena tidak semua orang itu mampu. Tetapi ketika kita dilarang dari sesuatu maka kita semua diperintahkan untuk meninggalkannya tanpa dikaitkan dengan kemampuan atau tidak mampu, karena pada asalnya semua orang pasti mampu untuk meninggalkan larangan. Contohnya, ketika kita disuruh untuk mengangkat sebuah batu besar, maka tidak semua dari kita mampu untuk mengangkat batu besar tersebut. Tetapi ketika kita dikatakan kepada kita, “Jangan angkat batu itu”, maka kita semua pasti mampu untuk tidak mengangkat batu itu.

Oleh karena itu, dosa yang diakibatkan karena melanggar perintah lebih berat hukumannya daripada dosa yang diakibatkan karena melanggar larangan. Tetapi hendaknya hal ini tidak membuat kita menganggap remeh dosa melanggar larangan, karena jika seseorang menganggap ringan suatu dosa maka berat sekali konsekuensinya di hadapan Allah Ta’ala.

RI 2

12 Jumadil Ula

1432

Yang sangat membutuhkan ampunan-Nya

==========================

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s