Catatan Kajian Nashiihatiy lin-Nisaa` Part 5

oleh Pengen Ke Madinah pada 18 Mei 2011 jam 15:07

Pada pembahasan yang lalu, disebutkan bahwa Allah Ta’ala tidaklah menciptakan kita dengan sia-sia (yaitu dibiarkan begitu saja tanpa perintah dan larangan). Lantas bagaimanakah kewajiban kita terhadap perintah dan larangan Allah Ta’ala?

Kewajiban kita terhadap perintah Allah Ta’ala yang pertama adalah mempelajarinya. Kewajiban kedua adalah mencintai perintah tersebut.

Demikian juga kewajiban kita terhadap larangan Allah Ta’ala sama dengan kewajiban terhadap perintah-Nya. Yang pertama adalah mempelajarinya supaya kita bisa menjauhi hal-hal yang dilarang oleh-Nya dan agar kita tidak terjerumus ke dalamnya. Yang kedua adalah mencintai larangan tersebut, sebagaimana mencintai perintah Allah Ta’ala. Mengapa kita harus mencintai larangan Allah? Karena di balik larangan Allah Ta’ala pasti ada maslahatnya.

Catatan: yang dicintai adalah larangannya (النهي), adapun perkara yang dilarang (المنهي) harus dibenci, karena pasti menimbulkan madharat. Contoh: kita mencintai larangan berzina, tetapi kita harus membenci hal yang dilarang tersebut yaitu zina. Kita mencintai larangan berbuat syirik dan kita harus membenci kemusyrikan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Yang telah menciptakan kematian dan kehidupan untuk  menguji kalian siapa di antara kalian yang lebih baik amalannya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2)

Ayat ini menggambarkan bahwa inti dari kematian dan kehidupan adalah ujian bagi kita, dengan soal ujian: siapakah yang paling baik amalannya?

Fudhail bin ‘Iyadh dan Syaikh As-Sa’di rahimahumallah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan yang palin baik amalannya (أَحْسَنُ عَمَلاً) adalah amal yang paling ikhlas dan paling benar. Amal yang ikhlas adalah amal yang ditujukan untuk Allah Ta’ala semata, sedangkan amal yang paling benar adalah amal yang sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Penulis kitab (Ummu ‘Abdillah hafizhahallah) mengatakan, “Seakan-akan kita diciptakan untuk (kehidupan) dunia dan untuk makan, minum, dan bersenang-senang. Padahal kita belum menunaikan apa yang Allah inginkan dari kita. Bahkan kita berlari-lari kecil untuk menghalanginya. Maka janganlah sampai dunia ini melalaikan kita, karena umur sangatlah pendek.“

Sungguh benar apa yang dikatakan oleh seorang penyair:

العمر أقصر مدة من أن يضيع في الحساب

فاغتنموا ساعاته فمرورها مر السحاب

“Umur itu sangatlah singkat untuk sekedar dihitung-hitung saja.

Maka manfaatkanlah waktu karena  berlalunya waktu itu seperti lewatnya awan.” 

Menjelang ‘ashar, 15/02/1432

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s