Catatan Kajian Nashiihatiy lin-Nisaa` Part 6

Catatan Kajian Nashiihatiy lin-Nisaa` Part 6
oleh Pengen Ke Madinah pada 14 Juni 2011 pukul 19:34 ·

Jangan Tertipu dengan Dunia

Penulis hafizhahallah menukil beberapa firman Allah Ta’ala, yaitu QS. Al-Hadiid: 20, QS. Al-Kahfi: 45, dan QS. Yunus: 24.

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرّاً ثُمَّ يَكُونُ حُطَاماً وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan berbangga-bangga di antara kalian serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadiid: 20)

Allah Ta’ala memberitahukan kepada kita bahwa dunia adalah tempat bermain-main dan bersenda gurau, bukan tempat kenikmatan yang hakiki. Dunia ini memiliki pengikut, sebagaimana akhirat juga memiliki pengikut. Pengikut akhirat, hati mereka sibuk dengan dzikir kepada Allah, berusaha untuk mengenal dan mencintai Allah, dan mengisi waktu mereka dengan amal perbuatan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Sementara pengikut dunia, hati mereka tersibukkan dengan sikap lalai, bermain-main, tersibukkan dengan perhiasan dunia dan berbangga-bangga dengannya.

Kemudian Allah Ta’ala membuat suatu permisalan supaya orang-orang tahu tentang hakikat dunia. Orang yang tahu akan hakikat dunia, maka dia akan menjadikan dunia ini sebagai tempat penyeberangan /tempat singgah sementara saja, bukan sebagai tempat tinggal. Dia akan berlomba-lomba untuk melakukan segala sesuatu yang bisa mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Apabila ada orang lain yang menyainginya dalam masalah dunia, maka dia akan berusaha menyaingi orang tersebut dalam masalah akhirat (dengan melakukan amal shalih). Inilah orang yang tahu tentang hakikat dunia.

وَاضْرِبْ لَهُم مَّثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاء أَنزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيماً تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مُّقْتَدِراً

”Dan buatlah permisalan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagaimana air hujan yang Kami turunkan dari langit, sehingga menyuburkan tumbuh-tumbuhan di bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Kahfi: 45)

إِنَّمَا مَثَلُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاء أَنزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الأَرْضِ مِمَّا يَأْكُلُ النَّاسُ وَالأَنْعَامُ حَتَّىَ إِذَا أَخَذَتِ الأَرْضُ زُخْرُفَهَا وَازَّيَّنَتْ وَظَنَّ أَهْلُهَا أَنَّهُمْ قَادِرُونَ عَلَيْهَا أَتَاهَا أَمْرُنَا لَيْلاً أَوْ نَهَاراً فَجَعَلْنَاهَا حَصِيداً كَأَن لَّمْ تَغْنَ بِالأَمْسِ كَذَلِكَ نُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

”Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu hanyalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya , dan pemilik-permliknya mengira bahwa mereka pasti menguasasinya , tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang berfikir.” (QS. Yunus: 24)

Dalam ayat-ayat tersebut dan ayat-ayat semisalnya mengandung penghinaan kondisi dunia, bahwasanya dunia adalah tempat yang akan sirna dan rusak.

Kata “dunia” berasal dari “ad-dunu” yang berarti dekat. Disebut demikian karena dunia itu mendahului akhirat. Disebut juga dengan “dunia” karena dunia itu dekat sekali dengan kerusakan.

Dunia itu adalah kesenangan yang sirna dan naungan bagi para penyeberang jalan. Tertipu dengan dunia akan menyebabkan kehancuran. Allah Ta’ala berfirman,

وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَشَهِدُواْ عَلَى أَنفُسِهِمْ أَنَّهُمْ كَانُواْ كَافِرِينَ

“… kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir.” (QS. Al-An’am: 130)

Seorang penyair berkata (yang artinya),

“Itulah dunia, dia berkata dengan sepenuh mulutnya,

‘Hati-hatilah dari sergapan dan seranganku.

Maka janganlah kalian tertipu oleh senyumanku[1].

Perkataanku begitu menggoda, membikin tertawa.

Akan tetapi hakikatnya adalah membuat menangis.’”

Jika tingkat keimanan seseorang itu rendah, maka dia akan gampang sekali tertipu dengan dunia.

Dunia adalah tempat yang menyusahkan dan melelahkan. Kalaupun dunia itu baik bagi seseorang dari satu sisi, maka keburukan dunia akan menimpanya dari sisi yang lain. Seseorang yang sukses di dunia pasti khawatir akan hancur, bahkan mungkin kekhawatirannya lebih besar daripada kegembiraannya menikmati kesuksesan. Seorang pemimpin takut kalau kepemimpinannya dicabut, seorang pedagang takut kalau dagangannya bangkrut, seorang petani takut kalau hasil pertaniannya susut. Demikianlah, manusia tidak akan tenang hidup di dunia.

Kebahagiaan di dunia ini tidak akan sempurna dimiliki oleh seorangpun. Allah Ta’ala berfirman,

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي كَبَدٍ

“Sungguh telah Kami ciptakan manusia dalam keadaan susah.” (QS. Al-Balad: 4)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling mengetahui hakikat kehidupan dunia. Di antara doa beliau adalah (yang artinya),

”Aku memohon kepada-Mu sejuknya kehidupan setelah kematian.”

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, “Tatkala telah diketahui bahwa kehidupan dunia ini tidaklah enak bagi siapapun. Bahkan kehidupan dipenuhi dengan halangan dan kesusahan, serta dilingkupi dengan rasa sakit lahir dan batin. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta ketenangan hidup setelah kematian.”

Simaklah syair berikut ini (yang artinya),

“Ada delapan perkara yang pasti dialami oleh seorang pemuda.

Mau tidak mau seorang pemuda pasti mengalaminya.

Yaitu senang, sedih, berkumpul, berpisah, mudah, sulit, sakit, dan sehat.”

Dunia adalah ladang bagi akhirat. Sedangkan di akhirat nanti adalah masa panennya. Apa yang kita tanam di dunia, itulah yang akan kita panen di akhirat.

————–

[1] Maksudnya: keindahan dunia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s